jump to navigation

Surat Izin Mengemudi (SIM) Berjenjang, Perlukah di Indonesia…??? 4 September, 2012

Posted by proud2ride in Safety.
trackback


Kasus meninggalnya direktur Adaro, Andre Mamuaya setelah kecelakaan bersama moge Ducati langka Sport 1000 S dan artis sinetron Rezky Aditya yang kabarnya juga jatuh naik moge mengingatkan P2R pada salah satu teman lama yang kerepotan saat naik kelas dari gak pernah naik motor langsung ganti moge.

Curhat awalnya langsung bikin deg deg serrrr…!!! Ngeri katanya gas dikit langsung mencelat. Enggak kebayang kalau tiba-tiba salah timing lepas tuas kopling atau latah buka gas, bisa nyungsep tuh orang.

Sama juga kasusnya dengan anak seorang teman, yang di ulang tahun ke 17-nya dibelikan Ninja 250R, belom apa-apa sudah lecet-lecet dan spion patah. Loh jatuhnya gimana…??? “Waktu geser motor di garasi gak kuat nahan motornya, jatoh deh,” katanya enteng. Waduh, nuntun motor aja belom lempeng udah dikasih motor berukuran gambot.

Pada dua contoh kasus yang dialami rekan P2R ini mengingatkan perilaku pengendara sepeda motor yang beli motor tidak sesuai dengan level skill-nya. Nah, sekarang mau ngajak diskusi, sebenernya perlu gak sih diterapkan SIM berjenjang. Jadi yang masih belajar dan yang udah expert dibedakan lisensinya. Ya… seperti di negera-negara Eropa atau di Jepang.

Misalnya, pengendara level satu adalah SIM untuk yang benar-benar pemula. SIM C-1 untuk pemakai motor maksimal sampai 125 cc, lalu ada SIM C-2 boleh nyemplak motor maksimal 250 cc. Atau SIM C-3 boleh ngegas motor 600 cc atau SIM C-4 untuk 600 cc ke atas.

Malahan, kalau enggak salah di beberapa negara, untuk pengendara pemula wajib menempelkan stiker “L” yang artinya learn to ride atau masih belajar. Fungsinya untuk biar pengguna jalan lainnya tahu kalau yang sedang dihadapi atau yang sedang ada didekatnya masih belajar. Jadi kudu waspada!

Kalau di Indonesia…??? Tahu sendirilah, bocah kecil udah pada ngegas motor di komplek-komplek. Baru belajar naik motor langsung ke jalan tanpa kita tahu spesifikasi mereka, sudah lihay atau baru belajar. Naik motor yang sesuai skill atau asal ngegas aja motor yang sebenernya belum dikuasai betul.

Kayaknya sudah perlu menuju kesana. Apalagi, jalanan kita makin padat sama motor!

**********

Buat yang mau email ke P2R untuk kasih masukan atau kasih informasi seputar persepeda motoran tanah air. Send aja ke P2Rbikers@gmail.com

Join with Social Media Proud2Ride:

Fan Page FB = Proud2ride
Follow Twitter @proud2ride

Komentar»

1. Ari CX Rider - 4 September, 2012
2. Zul - 4 September, 2012

Sangat perlu!

3. 125xr - 4 September, 2012

inilah indonesia….

4. c33b - 4 September, 2012

kalo masih ada budaya suap-menyuap tidak ada gunanya kayanya

5. fresh and fresh - 4 September, 2012

Calo awas calo … 👿

6. wellonk - 4 September, 2012

artikel ini lebih baik… nice artcle

7. Rony - 4 September, 2012

sip..se7 om..btw dnger2 rezky gak pake helm wkt kcelakaan..hmm..

8. Nichoz Ahmad - 4 September, 2012
9. blueZ - 4 September, 2012

sip, sangat mendukung pembentukan sim kayak gitu 🙂 …

10. Joko - 4 September, 2012

Seharusnya memang begitu. Terus kalau mau naik kelas, bayar simnya juga harus lebih mahal. Biar anak2 alay kesulitan mau pakai cc besar. Terus kalau terbukti melanggar aturan lalu lintas, cabut simnya.

suzuki kunaiki - 4 September, 2012

mantap om…

11. lol - 4 September, 2012

pembedaan seperti itu mungkin saya rasa tidak perlu.karena hanya akan memberatkan anggaran kepolisian.
saran saya cukup di terapkan dan di tegakkan peraturan yg sudah di sahkan.
semua pasal peraturan transportasi saya rasa sudah cukup.hanya penerapan dan penegakannya yg masih kurang.
pembuatan sim dengan tes sesuai standar
rambu rambu lalu lintas yg sudah sesuai kondisi dan posisi.
semua sudah baik…

bos andaro—->>ngebut
padahal dalam kota kan max 60kmpj bukan…

12. Ricard 13 - 4 September, 2012

Skill dan keuangan maksimal pada tingkat 250CC…
#anak muda.com

13. Fit supra - 4 September, 2012

Pagi mas bro..
Yah menurut ane sih. Bikin sim itu hal yang serius. Mestinya pemerintah berikan solusi yang merakyat. Bikin sim kan murah. Yang bikin mahal itu kan oknum. Dan jelas jadi suatu yang bukan rahasia umum sim itu dapat diperoleh dengan cara belakang (nembak). . Dan itu amat sangat jauh dari kata ‘layak’ mengemudi. Karena tidak terdeteksi kemampuan sang pengaju sim. Dan otomatis tingkat ugal2an di jalanan dan seruntulan semakin meningkat. Meskipun notabene dia pengemudi pemegang sim. Sehingga faktor penyebab kecelakaan juga akan bertambah CMIIW.
Solusinya, menurut ane.
SIM itu adalah menyangkut juga emosi, kejiwaan (psikologis) pengemudi terhadap kendaraan. Jadi diperlukan bimbingan yang cukup. Misalnya ada kurikulum resmi tingkat SD, SMP hingga SMA tentang mengemudi, dan mengguna jalan. Hingga SIM itu akan menjadi hal yg wajib bagi setiap warga negara. Baik itu yg akan memiliki kendaraan maupun yg minjam.hehe.
Dan pihak terkait semisal dinas pendidikan dan dinas polri bagian lalin semestinya ada kerja sama dalam hal pendidikan SIM ini, sehingga kedewasaan dan kemampuan berkendara setiap warga dapat terdidik dan disiapkan sejak awal. Mungkin demikian.
Maaf bila ada kata2 yg salah.

dangdul - 4 September, 2012

mantafff … jd ada dong sim tuk ank sklh.

motor butut - 4 September, 2012

keren opininya. sepakat 100%

Kevin - 4 September, 2012

Ane pikir sih harusnya dibuat kaya Jepang, bikin sim bisa nyampe puluhan juta itu aja pake test yg terintegrasi.

permasalahnnya lagi:
Di Indonesia tuh khususnya Jakarta banyak pengemudi yg gk punya SIM jadi coba deh jalan ke daerah Tanah Abang, Mangga Dua dan sekitarnya, banyak yg gk punya SIM padahal umurnya dah cukup, alasannya “mahal”, “repot”, “gk ada waktu”

14. Joko - 4 September, 2012

Bener mas, harus ada SIM berjenjang! eh iya tapi apa ada yang ngawasin?? lom lama lihat 2 anak kecil, seumuran SD kelas 5 lah boncengan bawa shogun new 110 nabrak tembok perumahan, keduanya gak sadarkan diri dari telinga, hidung, mulut keluar darah semua, yang 1 kayaknya gak bernafas….kata yang nolong langsung!!

15. achmad sya'roni blog - 4 September, 2012

perlu tapi susah penerapannya.

16. sunny ts - 4 September, 2012

Menurut saya sangat di perlukan sistem penjenjangan sim ini, sama seperti kita sekolah/ dalam hidup pasti bertahap. Ada prosesnya. Dan yang juga tidak kalah penting adalah mengenai mengerti peraturan lalu lintas dan mentaatinya/ disiplin. Seperti di australia berlalu lintas itu sangat baik disana. Patut dicontoh.

17. idsoke - 4 September, 2012

Perlu tapi jangan sampe ini jadi lahan baru yang menyusahkan masyarakat yang hendak memperoleh SIM

18. dangdul - 4 September, 2012

setujoe p2r, polri dah memikirkan Hal itu. cuman Hal” yg kt’y sepele sprt ini kurang d perhatikan. jd g mungkin polri doang yg mendukung dong…butuh dukungan smua pihak. mantafff

19. syaffa - 4 September, 2012

setuju banged dengan ide nya,harus nya setiap SIM untuk motor punya perbedaan,misal khusus matic,sport dan CUB,jangan semua jenis roda dua SIM C,jadi bagi orang yang baru bisa makai motor sport jdi ada perbedaan

20. Dheo - 4 September, 2012

selama kepolisian masih korup dan bisa “maen belakang” nggak ngefek. Indonesia ini UUD (Ujung-Ujungnya Duit)

21. goeh80 - 4 September, 2012

BTW om om komentator ada yang pernah lulus ujian jalan zigzag + mutar angka 8 gak… (itu ujian bikin sim atawa ujian jadi tukang akrobat ya?)

22. koreng coklat - 4 September, 2012

halahh gha perlu dari dulu indonesia kebanyakan aturan ga penting,ujungnya lahan kurupsi polisi..semua dah taulah,,wong proses bikin sim resmi saja kita udah bener2 waktu tes ms dibilang salah..kalo sogok dikit lulus dah. ini fakta dilapangan. so semua kambali ke pribadi (kesadaran dan kemampuan dalam berkendara roda 2) kalo anaknya belum pantas naik moge ortu harus tanggap jangan dikasih moge. moge memang memancing andrenalin untuk dipake ngebut tapi sikon jalan di indonesia tidak layak untuk motorsport cc gede, beda hal dengan harley davidson. jangan mengidentikkan moge adlah penyebab kecelakaan

23. ipanase - 4 September, 2012
24. temonsoejadi - 4 September, 2012

perlu , tp gak perlu..
[nitip mas share #WorldHijabDay ]
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/09/04/mengapa-harus-berhijab/
terima kasih

25. lugupol - 4 September, 2012

kalau ug ini gue setuju…

26. Kevin - 4 September, 2012

gw bilang sih ya…,
segmen nya tuh harusnya dibagi 3:
max. 250cc
max. 600cc
>1000cc

dengan syarat tambahan:
setiap pengendara harus telah memiliki SIM selama 3 tahun untuk bisa naik ke level 600cc, dan 1 tahun tambahan untuk ke level >1000cc

dan pembeli kendaraan wajib memberikan Fotocopy SIM untuk pembelian motor >250cc…

Dan tentunya harus mengikuti prinsip “The greatest good for the greatest number” keputusan harus mengikuti suara mayoritas jadi gk ada ceritanya pedagang motor gede ngomel ngomel soal peraturan, PEMERINTAH HARUS TEGAS!!!
BTW motor 250cc dah mulai jadi motor mayoritas lihat aja penjualannya lumayan gede kan

27. gogo - 4 September, 2012

perlu g perlu memang perlu adanya pengetatan dlm perijinan SIM. ibarat sekolah, ds sistem berjenajang mka diharapakn lbh mdah beradaptasi..

28. Aank Wijaya - 12 September, 2012

kayagnya kudu ada yang berjenjang gityu bagus juga..
biar tahu level bisa naik motornya seberapa jadi ga asal punya SIM ajha…!!!

29. Bobby kelanarimba - 14 September, 2012

hahaha……………..
ini lah indonesia negara masih berkembang ntah kapan berkembang kita semua pastinya belum tau lah toh emang sih musti seperti negara lain SIM berjenjang harus di buat agak keselamatan para berkendara lain jadi bisa tau yang mana baru belajar dan tidak apa lagi boro-boro melakukan SIM jenjang peraturan lalu lintas dan peletakan parkir apa lagi kemacetan saja belum di urus dengan jelas bagaimana dengan SIM berjenjang
😀
kagak kelar-kelar urusanya ini mah
😀

30. Surat Izin Mengemudi Fungsinya – HD Picture - 5 April, 2020

[…] Download Image More @ proud2ride.net […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: