jump to navigation

Hari ke-166, Penjelajahan Mario Iroth Bersama CRF250Rally Menembus Sudan 14 April, 2018

Posted by proud2ride in Balap & Touring, Honda, Merk.
Tags: ,
trackback

8B2B5BBD-C682-48C6-9B52-D3E6CC8F279E

Sudah 166 Hari Mario Iroth meningalkan Indonesia. Tak terasa hampir 6 bulan penjelajah Indonesia ini melakukan penjelajahan di Benua Eropa dengan menggunakan sepeda motor adventure Honda CRF250Rally. Bersama kawan yang mengabadikan perjalanannya Lilis Suryani keduanya memasuki wilayah Sudah. Angka di speedo meter menunjukan 23.580 Km.

Penjelajahan bernama Wheel Story tersebut masuk Sudan dari Gallabat, border bagian selatan yang berbatasan dengan Ethiopia. Proses imigrasi dan custom berjalan lancar. “Kami diwajibkan registrasi ulang visa Sudan di perbatasab sehingga ketika ada check point semua berjalan lancar,” tulis Mario menceritakan kisahnya masuk Sudah.

Sekitar 80 Km pertama kondisi jalanan rusak dan berlubang, hanya savana dan perkampungan kecil yang terlihat, belum lagi cuaca panas mencapai 43°C, untung camel bag menampung 3L air minum. Sekitar 150 Km berkendara dari border hujan lebat mengguyur area gurun. Tidak ada tempat berteduh.

B17D0215-259B-4DB2-9852-402389829D96

Mario pun berkendara dengan hati-hati karena jarak pandang terganggu oleh air hujan disertai angin kencang. Lumayan bikin adem karena air hujannya terasa seperti air es. Sore hari menjelang mereka memutuskan untuk bermalam di kota Al-Qadarif.

Hari selanjutnya mereka sudah bangun dari ‪jam 6‬ pagi. Sengaja riding lebih pagi supaya udara masih sejuk. Biasanya mulai ‪jam 10‬ pagi udara mulai panas menyengat. Masih harus menempuh jarak sekitar 400 Km untuk tiba di Khartoum. Dan memang benar ketika tengah hari tiba, terpaan angin serasa ditiup pakai hairdryer. Siang itu temperature mencapai 46°C. Bukan main panasnya.

Belum lagi polisi check point hampir setiap 25 km menanti kadang bikin kesal karena berhenti sejenak di bawah terik matahari yang membakar kulit. Sesekali mereka berteduh di warung kecil pinggir jalan untuk mendinginkan tubuh sambil minum teh dan kopi khas Sudan yang nikmat.

Sampai di Khartoum, mereka disambut di KBRI Khartoum. Disini pengurusan visa Mesir dilakukan. Sambil menunggu visa selesai, keduanya sempatkan bertemu dengan Mahasiswa Indonesia di Khartoum. Biasanya mereka sering nongkrong di Warung Nusantara (warung Indonesia yang dikelola oleh Mahasiswa Indonesia).

Asyik berul menyantap makanan Indonesia yang sudah kangen berat sambil ngobrol bebas dengan Mahasiswa Indonesia di Sudan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

8CC45287-53FB-44EE-9516-F7CC8E5CBB2E

Wheel Story juga sempat mendapat undangan mengunjungi pabrik Indomie berada tak jauh dari Khartoum. Sambil menceritakan pengalaman touring kami di Afrika di depan staff Indomie yang berasal dari Indonesia, juga sempat melihat proses pembuatan hingga pengepakan Indomie.

Selanjutnya Mario diwawancara oleh journalis yang memuat berita Wheel Story di beberapa media cetak dan online di Sudan. “Ketika visa mesir sudah siap, kami belum bisa melanjutkan perjalanan ke bagian utara karena tertahan oleh badai pasir yang melanda Khartoum. Kami menunggu hingga badai pasir reda 2 hari lamanya,” kisah Mario.

Setelah cuaca bersahabat, perjalanan dilanjutkan. Dilepas oleh seluruh staff KBRI Khartoum dari depan KBRI. Selama perjalanan menuju utara, masalah lainya sudah menanti, yakni susah mendapatkan bahan bakar. Dikarenakan kilang sedang dalam tahap maintainance sehingga mengakibatkan pasokan bahan bakar ke berbagai tempat menjadi terhambat.

Untunglah masih bisa ditemukan di Black market walaupun harganya jauh lebih mahal, namun tetap masih terasa masih murah karena memang di Sudan bahan bakar sangat murah. Bayangkan saja satu liter seharga 6 pound Sudan atau sekitar 2500 rupiah.

Wheels Story menghabiskan beberapa hari di kota Karima. Disini mereka mengunjungi Pyramida Jebel Barkal yang diklaim sebagai pyramida tertua, walaupun tidak sebesar pyramida Giza di Mesir. Masyarakat Sudan memang sangat ramah, tim penjelajah ini sempat di-host oleh 2 keluarga untuk beristirahat dan makan bersama sewaktu tidak berhasil mendapatkan bensin.

1636A586-9988-4096-8D6D-2AE4EB3F30CB

Perjalanan berlanjut kearah utara melewati gurun pasir, banyak check-point oleh militer namun semuanya ramah dan bersahabat apalagi kalau mendengar Indonesia mereka akan langsung teringat dengan Soekarno (Presiden pertama RI).

“Hari terakhir di Sudan kami tinggal di penginapan sederhana di pinggir sungai Nil, menikmati sunset dari pinggir sungai Nil dan menikmati makanan tradisional khas Sudan. Selanjutnya tak jauh dari sana sekitar 200km akhirnya kami tiba di perbatasan Eshket berbatasan langsung dengan Mesir dan mengakhiri petualangan kami di Sudan,” tutup Mario.

Komentar»

1. Dwi Okta Nugroho - 15 April, 2018

Smg perjalanan nya dpt di bukukan..

2. Reky - 15 April, 2018

GILA, udah hampirsetengah tahun menjelajah,, semoga lancar di jalan Mario


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: