jump to navigation

Dengan Motor Bebek Honda Blade Pasutri Peserta MTQ Bermotor Sulawesi Tengah ke Padang 24 November, 2020

Posted by proud2ride in Balap & Touring.
Tags:
trackback

Sepasang suami istri kompak menuju arena Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Padang dengan bermotor sejak dari Sulawesi Tengah. Keduanya adalah Nining R Rusdin Wakiden dan suami Hasan CI Bunyu.

Hasan dan Nining yang mengendarai motor bebek Honda Blade menempuh perjalanan selama 16 hari dengan total menjelajah 15 provinis di Indonesia.

Perjalan bermotor yang tergolong hebat ini mereka lakoni demi bisa mengikuti ajang MTQ Nasional ke 28 di kota Padang, Sumatera Barat.

Semua berawal setelah Nining ditetapkan sebagai kafilah MTQ Nasional mewakili Kalimantan Utara. Mereka memutuskan berangkat menggunakan sepeda motor dari Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Sebagaimana dikutip dari Antara, pasangan suami istri itu nekad menempuh perjalanan dari Parigi Moutong, Sulawesi Tengah sejauh 13 ribu kilometer selama 16 hari.

Nining bersama Hasan hanya membawa bekal pas-pasan untuk makan dan beli bahan bakar di perjalanan. Berangkat pada 28 Oktober 2020 dan berdasarkan hitungan mereka hanya akan cukup hingga di Yogyakarta.

Namun, dengan keyakinan mereka tak menyangka bisa sampai ke Ranah Minang pada 13 November 2020 setelah menyeberang empat pulau besar di Tanah Air yaitu Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan Sumatera.

Nining merupakan kafilah MTQ dari Kalimantan Utara pada cabang kaligrafi. Kebetulan ia dan suami berdomisili di Sulawesi Tengah sehingga berangkat dari Taopa, Parigi Moutong. Sementara Hasan sehari-hari berprofesi sebagai guru agama Islam.

Usai ditetapkan sebagai utusan Kalimantan Utara, mereka berdua pun memutuskan berangkat menggunakan sepeda motor dengan alasan mencegah penularan Covid 19.

Pada 2018 Nining juga mewakili Kalimantan Utara mengikuti MTQ Nasional di Medan, Sumatera Utara. Saat itu, karena belum ada Covid 19, ia berangkat bersama rombongan menggunakan pesawat udara.

Namun, karena saat ini sedang pandemi dan kampung tempat berdomisili di Parigi Moutong masih hijau, ia memutuskan untuk menggunakan sepeda motor.

“Hampir setiap yang bepergian dengan pesawat udara di kampung kami dikarantina dan dikucilkan masyarakat hingga satu bulan karena khawatir Covid 19, kami akhirnya memutuskan supaya lebih aman pakai motor saja,” kata dia menceritakan kisahnya

Awalnya ia sempat tidak mau berangkat karena khawatir Covid 19. Ia pun mencoba mencari rute kapal ke Belawan, Medan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Padang.

“Namun, ternyata tidak ada jadwal, akhirnya ada rombongan moge lewat. Lalu dari itulah, mencoba naik motor,” katanya.

Tentu saja keberangkatan ke Padang menggunakan sepeda motor jenis bebek mendapat penolakan mulai dari petugas setempat hingga pihak keluarga.

Namun, Nining dan Hasan tetap berangkat karena alasan tidak mengizinkan tidak ada dan berbekal doa, ia jalan ke Toli-Toli menyeberang ke Kalimantan tepatnya Kalimantan Utara.

Beberapa kali di jalan ia ditelpon diminta membatalkan perjalanan, namun Hasan tetap lanjut.

Usai mengurus izin ia melanjutkan perjalanan, menuju ke Kalimantan Tengah terus menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk menyeberang ke Pulau Jawa tepatnya Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Sempat tertahan dua malam di Banjarmasin karena salah jadwal kapal menyeberang ke Surabaya, Hasan sempat khawatir karena waktu makin singkat.

Tepat 8 November 2020 akhirnya ia sampai di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

Sesampai di Yogyakarta pasangan itu mengikuti tes usap di fasilitas kesehatan setempat sebagai salah satu syarat peserta MTQ nasional oleh panitia di Sumatera Barat.

Hasan dan Nining menyusur Jawa menuju Pelabuhan Merak Banten siang dan malam karena mematok target harus sampai di Padang paling lambat 14 November 2020.

Mereka hanya beristirahat dua jam saja selepas Subuh dan setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.

Karena belum tahu rute dalam perjalanan mereka mengandalkan aplikasi google maps dan bertanya kepada penduduk.

Hasan pun memilih mengendarai motor dengan kecepatan maksimal 60 kilometer per jam karena khawatir jika terlalu cepat saat tersasar akan semakin jauh dan mencegah kecelakaan.

Untuk beristirahat mereka singgah di SPBU termasuk mandi. Sedangkan untuk makan di Pulau Jawa ia mencari warteg dan hanya membeli satu bungkus nasi dengan dua lauk demi menghemat biaya.

“Kalau malam ngantuk sih iya, kalau sudah tidak kuat istirahat dulu sebentar,” kata Hasan.

Ia pun sempat ragu akan sampai karena pada 9 November masih di Yogyakarta sementara 14 November 2020 MTQ sudah dimulai.

Sampai di Lampung ia memutuskan lewat jalur lintas tengah, namun akhirnya ia memutuskan lewat Pagar Alam menuju lintas barat di Bengkulu hingga ke Muko-Muko.

Akhirnya Pada 13 November 2020 pukul 09.00 WIB Hasan pun tiba di Bungus Teluk Kabung yang merupakan gerbang Kota Padang.

Ia setengah tak percaya bisa sampai dan menanyakan kepada warga setempat hingga dua kali apakah benar sudah berada di Padang setelah melewati 15 provinsi.

Berkat semangat cinta Al Quran dan tekad kuat mereka pun sampai di tujuan untuk berjuang bersama seluruh kafilah di Tanah Air.

Komentar»

1. ken - 25 November, 2020

luar biasa… semoga balik nya sehat sampai rumah lagi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: